Perbedaan Taksi Konvensional dan Uber

Rabu, (30/3) kelompok kami melakukan experience yaitu dengan membandingkan perbedaan antara naik Taksi konvensional dengan Uber. Yang menjadi perbandingan adalah dari segi kenyamanan, harga, dan fasilitas. Untuk urusan Taksi, sebenarnya sudah tidak asing lagi, karena kelompok kami sudah terbiasa menggunakan transportasi umum ini. Kami juga sedikit mewawancarai supir Taksi maupun Uber, demi mendapatkan informasi yang kami butuhkan.

Kita semua tahu, belakangan ini ada sebuah peristiwa dimana para supir taksi melakukan aksi demo terhadap pemerintah yang tidak tegas akan hadirnya taksi berbasis aplikasi. Taksi online, sukses membuat perusahaan-perusahaan taksi konvensional ketar-ketir karena sebagian pangsa pasarnya, diambil oleh taksi online tersebut.

Melihat hal ini, kelompok kami berinsiatif untuk mencoba turun ke lapangan dan mencari tahu apa sih yang membuat taksi online perlahan mulai diminati masyarakat Indonesia? Seperti apa pelayanan yang diberikan driver kepada pelanggannya? Lalu, perbandingan-perbandingan apa saja yang terjadi diantara taksi konvensional dan taksi online ini?

Artikel ini kami buat, bukan untuk membela pihak manapun, namun mencoba untuk melihat permasalahan dan memberikan informasi kepada pembaca, apa saja kemudahan yang akan di dapat, maupun kekurangan yang ada pada 2 model taksi ini.

Singkatnya, berikut hasil pengalaman kami menaiki taksi konvensional maupun taksi online.

Kami memulai perjalanan dari Kalbis-Mall Of Indonesia dengan menggunakan UBER. Lalu saat pulang, kami menggunakan Taksi konvensional dengan tujuan dari MOI-Kalbis. Selama perjalanan ini, kami mencoba untuk membandingkan dari segi pelayanan, fasilitas, maupun harga di 2 model taksi tersebut.

TAKSI

Taksi, sebenarnya adalah salah satu transportasi umum yang termasuk kedalam transportasi premium. Mengapa? Karena, dari segi pelayanan maupun kenyamanan yang didapat sangat berbeda dari transportasi umum lainnya. Begitu eksklusif, dan jauh dari kata ‘sesak’. Dengan batas orang 4 orang dewasa (termasuk supir) atau 5 orang, dengan syarat 1 nya adalah anak-anak. Kita tidak perlu desak-desakkan dan menicium bau keringat seperi di transportasi umum lainnya.

Sebenarnya jika kita ingin memesan taksi, kita dapat langsung menelepon call center maupun datang langsung ke pool taksi terdekat. Akan tetapi, karena taksi mudah didapat dan sering kita jumpai dijalanan, kita dapat dengan mudah menyetop ditempat kita ingin naik.
*Kita bisa dengan mudah mendapat taksi jika berada di: Jalanan ramai, Mall, Pusat perbelanjaan, dsb.

Pertama,
Di Taksi konvensional,  bukan berarti kita jauh dari kata panas loh, kebanyakan AC nya tidak terlalu dingin, ditambah lagi jika orang didalam mobil itu dibatas maksimum (5 orang). Namun, kembali lagi dengan kondisi mobil taksi itu sendiri. Menurut pengalaman kami, dengan kondisi isi mobil 5 orang, AC mobil tersebut tidak cukup kami rasakan, dan akhirnya kami merasakan kepanasan didalamnya.

Kedua,
Di Taksi konvensional, secara umum pelayanannya itu ramah, bahkan bisa dengan santainya mengobrol dengan si Supir. Jika supir itu sudah lama bekerja menjadi supir taksi, tak jarang ia akan banyak bercerita tentang pengalamannya. Hal ini menjadi perjalanan kita semakin menyenangkan dan tak terasa, karena saking asyiknya mengobrol dengan sang supir.

Image_20bcc7c.jpg
Suasana didalam mobil taksi

Ketiga,
Di Taksi Konvensional, kita bisa dengan mudah menyampaikan kritik maupun saran. Bahkan, jika kita kehilangan barang, atau ada yang tertinggal ditaksi yang kita naiki, kita bisa melapor ke call center. Tanggapannya pun sangat baik, ia akan menanyakan dengan  sangat rinci seperti: Plat mobil itu, kode mobilnya, nama supirnya, dan barang apa yang tertinggal.

Keempat,
Di Taksi konvensional, mayoritas para supir dapat menyupir dengan ajeg. Menurut pengalaman kami pula, sang driver dapat mengemudi sangat baik, dan tidak membahayakan penumpang maupun kendaraan lain. Dan ternyata, di salah satu perusahaan taksi konvensional, ada pelatihan yang dilakukan untuk calon driver mereka. Seperti yang dikatakan Supir taksi yang kami naiki “Pelatihan di taksi “Blue Bird” ada. Seperti tes fisik, tattoo (dipermasalahkan), dan tes mengemudi.” – Adar Suhendar.

Kelima,
Di Taksi konvensional, kita semua tahu kalau mereka memakai argo untuk mengetahui berapa yang akan kita bayar selama perjalanan kita. Pengalaman kelompok kami menaiki taksi saat perjalanan pulang, terdapat perbedaan harga yakni Rp.28.000 (MOI-Kalbis). Sedangkan saat berangkat dengan Uber, biaya yang harus kami keluarkan Rp.22.500 (Kalbis-MOI). Berbeda Rp. 5.500. Dengan tujuan dan tingkat kemacetan yang relatif sama.

Keenam,
di Taksi konvensional, ada tunjangan dan asuransi yang diberikan kepada  drivernya. Hmm, kalau asuransi untuk penumpang bagaimana ya?

Nah, itu dia pengalaman yang kami rasakan selama menaiki taksi konvensional. Ada kelebihan maupun kekurangan dibaliknya. Lalu, bagaimana dengan UBER? Berikut hasilnya.

————

Image_9a8eee5.jpg
Blue Bird kini juga punya aplikasi pesan taksi untuk Android, iOS, Windows Phone, dan BlackBerry

Lalu gimana dengan Uber?

Di Uber, cara pemesanannya pun layaknya memesan taksi pada umumnya. Pengguna diminta registrasi yang berisikan data pribadi dan nomor kartu kredit untuk pembayaran. Untuk memesannya pun cukup mengaktifkan fitur GPS, dan nama supir beserta nomor plat mobil pun dapat terlihat.

Di Uber, ada 2 pilihan mobil. Ada UberX dengan mobil seperti Daihatsu Xenia, Toyota Avanza, ataupun Suzuki Ertiga, dan Uber Black dengan mobil-mobil yang tergolong mobil mewah, sebut saja Toyota Alphard, Camry, hingga Mercedes Benz S-Class, dan semuanya plat hitam dan tanpa ada tulisan “taksi” satu pun pada badan mobil.

Tapi sayangnya, Uber hanya bisa mengangkut maksimal 4 orang karena Uber sendiri hanya bisa menanggung asuransi penumpang sebanyak 4 orang saja.

Nah, kalau mau baca lebih lengkap, baca juga Pengalaman Kita Naik Uber di Jakarta.

Kesimpulannya adalah, setelah kita mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan masing-masing taksi, kita sebagai konsumen dapat memilih taksi apa yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan kita. Untuk perusahaan Taksi sendiri, ini adalah salah satu masukan bagaimana taksi dapat menerima perubahan yang terjadi. Baik itu dari segi gaya hidup masyarakat maupun teknologi. Lanjut, ini juga menjadi PR untuk perusahaan taksi, mau menerima dan beradaptasi atau tidak dan apa mau tetap bersikukuh seperti ini, atau mulai melakukan evaluasi dan bertransformasi.

Teknologi baru, harus disetarakan dengan pemikiran baru bukan?.

Wah, udah di penghujung artikel nih ga terasaa yaa..
Sampai bertemu di artikel-artikel selanjutnyaa. 🙂

Baca juga:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s