Review Film Mars

 

Film yang berjudul Mars—yang kemudian dijadikan singkatan dari ‘mimpi ananda raih semesta’ adalah Film debut sutradara Sahrul Gibran. Dan penulis skenarionya adalah John De Rantau, yang dikenal sebagai penulis skenario dan kerap mengangkat isu pendidikan.

Film ini berfokus pada hubungan seorang ibu dan putrinya, yang harus bersusah payah agar putrinya mendapatkan pendidikan terbaik. Sekar (Acha Septriasa) adalah salah satu anak yang berasal dari pedesaan di daerah Gunung Kidul. Ia memiliki seorang ibu yang bernama Tupon (Kinaryosih) Sang ibu adalah seorang buta huruf, namun beliau memiliki cita-cita yang tinggi terhadap anaknya.

Tupon ingin putri kecilnya dapat menempuh pendidikan yang tinggi, Ia bahkan rela mengorbankan banyak hal untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Mulai dari menjual harta benda untuk membeli perlengkapan sekolah, hingga perjalanan jauh yang harus ditempuh setiap harinya. Namun sayang, Sambutan Sekar tak seperti yang diharapkan Sang Ibu. Sekar tak betah dengan pergaulan sekolah, hingga ia sering membolos bahkan membuatnya harus dikeluarkan dari sekolah.

Namun Tupon tak patah arang, ia bersama suaminya membanting tulang bekerja, hingga suatu hari sang suami meninggal karena tertimpa batu saat bekerja. Tupon harus terus bekerja demi masa depan anaknya. Ia ingin nasib anak perempuannya berbeda dan menjadi bintang yang paling terang bersinar di malam hari, mengalahkan cahaya bintang yang lain di sekitarnya. Sang Ibu menyebutnya lintang lantip (bintang yang cerdas) yang ternyata merupakan planet MARS.

Jerih payah sang Ibu pun terbayar, ketika Sekar berhasil kuliah di Oxford University, hingga Sekar berhasil meraih gelar Master dalam bidang astronomi.  Di hari wisudanya, Sekar berpidato mengenai keberhasilannya dan ia mulai menceritakan perjalanan hidupnya dahulu.

Singkatnya, film ini sangat kental sekali mengenai pendidikan, Keluarga, Ibu, dan mimpi. Film yang luar biasa untuk membuat para anak muda agar jangan pernah menyerah dalam menggapai segala mimpi. Jangan berkecil hati walau dari latar belakang yang berbeda. Semua berhak untuk bermimpi dan menggapai mimpinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s